Senin, 28 Januari 2013

Resume Materi Akidah Akhlak kelas V smt 2

Bab yang kami resume antara lain
1. Memahami Kalimat Thayyibah
2. Membiasakan Akhlak Terpuji
3. Menghindari Akhlak Tercela
semoga bermanfaat bagi pembaca, amin


Kalimah Thayyibah

1.    Arti Ucapan Innalillahi wa inna ilahi raji’un
Innalillahi wa inna ilahi raji’un artinya sesungguhnya kita adalah milik Allah dan pasti akan kembali kepada-Nya.
Saat  yang tepat mengucapkan kalimat  Innalillahi wa inna ilahi raji’un  yaitu :
-          Jika tertimpa musibah baik ringan atau berat.
-          Ketika terkena halangan atau rintangan, contohnya: ketika tersandung batu, ketika melihat buku, gelas dan benda lainnya yg jatuh dari meja.
Rasulullah Saw bersabda yang artinya :
tidaklah seorang hamba terkena musibah, kemudian ia berdoa, “sesungguhnya kita kepunyaan Allah dan sesungguhnya kita akan kembali kepada-Nya, ya Allah berilah pahala dalam musibah ini dan berilah aku ganti yang lebih baik daripadanya, “kecuali Allah akan memberikan pahala dalam musibahnya dan Allah member ganti baginya yang lebih baik daripadanya. (HR Muslim: 1526)
Dengan kesabaran dan ikhlas kita akan mendapat keutamaan dari Allah yaitu
a.    Diangkat derajat kita di sisi Allah
b.    Diampuni dosa-dosa kita
c.    Diberi ketenangan hati oleh Allah

2.    Perilaku Menghadapi Musibah
Tidak ada suatu musibah yang menimpa manusia tanpa izin Allah. Banyak contoh musibah yang telah kita lihat dan kita dengar, kejadian tersebut merupakan sesuatu yang menyengsarakan dan mendatangkan penderitaan, bahkan ada yang menganggap seolah-olah telah kiamat.

Allah tidak akan menguji hambaNya dengan musibah di luar kesanggupannya. Allah juga tidak akan mendatangkan musibah jika kita tidak ada hikmah di balik kejadian itu.
Ada dua bentuk musibah yang dialami manusia, yaitu:
a.    Musibah yang berarti azab dari Allah
Diperuntukkan bagi orang-orang yang lalai yang berbuat maksiat meninggalkan perintah Allah.
b.    Musibah yang berarti ujian dari Allah
Diperuntukkan bagi orang-orang yang beriman, melalui ujian tersebut dosa seseorang akan diampuni oleh Allah asalkan ikhlas dan sabar menerimanya.

Ciri orang yang dapat mengambil hikmah dari musibah, yaitu
Perubahan perilaku menjadi lebih bertaqwa setelah menerima musibah, yaitu perilakunya menjadi lebih baik dan lebih peduli kepada orang lain.


Asmaul Khusna
1.    Al Muhyi
Al Muhyi artinya Yang Maha Menghidupkan.
Allah memberi kehidupan pada bumi. Bumi yang semula kering dan tandus menjadi subur dan ditumbuhi pepohonan.
Allah SWT berfirman dalam QS Al Fussilat/41 : 39 yang artinya
dan sebagian dari tanda-tanda (kebesaran)-Nya engkau melihat bumi itu kering dan tandus, tetapi apabila Kami turunkan hujan diatasnya, niscaya ia bergerak dan subur. Sesungguhnya (Allah) yang menghidupkannya pasti dapat menghidupkan yang mati; sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Jika kita meyakini sifat Al Muhyi, kita harus memelihara kelangsungan hidup manusia. Kita berdosa besar jika menghilangkan hak hidup sesame manusia. Barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia berarti telah memelihara kehidupan manusia seluruhnya.

2.    Al Mumitu
Al Mumitu artinya Yang Maha Mematikan.
Rahasia kematian hanyalah milik Allah. Allah adalah satu-satunya zat Yang Maha Mematikan. Allah mengetahui kapan kita mati, apa sebabnya, dimana dan kemana setelah mati.
Ketika tiba kematian seseorang, tidak ada seorangpun yang dapat menghalanginya. Saat Malaikat Izrail mencabut nyawa seseorang tidak ada seorangpun yang dapat    bersembunyi darinya.
3.    Al Baqi
Al Baqi artinya Yang Maha Kekal.
Allah adalah zat yang kekal wujud-Nya.
Firman Allah QS Al Qasas/28: 28 yang artinya “ dan janganlah (pula) engkau sembah tuhan yang lain selain  Allah. Tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Segala sesuatu pasti binasa, kecuali Allah..”

4.    Al Basir
Al Basir artinya Yang Maha Melihat
Allah melihat semua amal yang kita kerjakan, walaupun tidak ada orang yang melihat perbuatan kita, tetapi ingatlah bahwa Allah melihat apa yang kita kerjakan.
Firman Allah QS Al Hasyr/59: 18 yang artinya :
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan”.

MEMBIASAKAN AKHLAK TERPUJI

1.    Teguh Pendirian
Teguh pendirian berarti teguh apa yang menjadi pendapatnya.
Orang yang mempunyai sifat teguh pendirian tidak akan mudah terpengaruh oleh orang lain. Orang seperti ini tidak suka mencari muka, atau mengorbankan pendapatnya hanya menyenangkan orang lain.
Kebalikan dari sifat teguh pendirian yaitu niasa disebut plinpan.
Orang plinplan akan mudah merasa bimbang, orang seperti ini tidak yakin dengan pendiriannya, bahkan ia akan mudah mengubah pendiriannya demi orang lain.

2.    Dermawan
Dermawan yaitu orang yang dengan suka rela atau ikhlas memberikan bantuan.
Sifat dermawan merupakan sifat suka memberikan hak miliknya kepada orang lain agar dapat dimanfaatkan tanpa mengharapkan imbalan apa pun.

Firman Allah QS Al Baqarah/2: 261 yang artinya :
“Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki dan Allah Maha Luas, Maha Mengetahui.”

Manusia sebagai makhluk social selalu membutuhkan pertolongan orang lain karena mereka hidup bertetangga.
a)    Hidup bertetangga
Hadits Nabi yang artinya “barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah memuliakan tetangga”. (HR Muslim 67)
Orang-orang yang tinggal di sekitar rumah kita disebut Tetangga.
Kita harus menjunjung tinggi sikap tenggang rasa dengan tetangga. Tolong menolong dalam kebaikan itu wajib hukumnya, apalagi tolong menolong dengan tetangga.
Sabda Nabi “Tidaklah disebut mukmin orang yang kenyang sedangkan tetangganya kelaparan.”(HR AL Bukhari).
b)    Hidup Bermasyarakat
Kehidupan social dimulai dari yang paling kecil yaitu keluarga, tetangga, masyarakat, bangsa dan Negara. Hidup bermasyarakat tidak dapat dihindari.
Adab dalam bermasyarakat antara lain
-          Mengembangkan sikap toleransi dengan semua anggota masyarakat
-          Menjaga hubungan baik dengan rajin bersilaturrahmi
-          Mengikuti secara aktif dalam kegiatan social dilngkungan masyarakat tempat tinggal kita.
-          Menghindari perilaku-perilaku yang dapat menimbulkan permusuhan.
-          Menunjukkan kemuliaan akhlak seorang muslim.
JIka kita mampu dan dapat menjaga hubungan baik dengan mansuia berrati kita juga mampu menjaga hubungan baik dengan Allah.


MENGHINDARI AKHLAK TERCELA

A.   KIKIR
Kikir kebalikan dari dermawan.
Kikir atau bakhil yaitu enggan mengeluarkan sebagian harta yang dimilikinya kepada yang berhak menerimanya. Padahal di dalam harta itu ada hak bagi orang fakir miskin dan anak yatim. Maka orang yang bersifat kikir telah berkhianat kepada Allah, karena ia tidak mau menunaikan amanat yang diberikan kepadanya; yaitu berupa harta benda yang telah diterimanya.
Orang yang kikir atau bakhil hanya akan menemui kesukaran, dan terjerumus ke dalam perbuatan dosa, menjadi sombong, congkak, serta cinta dunia yang berlebihan
Menghindari sifat kikir
1.    Mengingat-ingat bahwa harta yang kita miliki adalah titipan Allah
2.    Mengingat akibat buruk yang timbul dari sifat kikir
3.    Membiasakan diri member kepada orang lain walaupun sedikit
4.    Melihat kehidupan orang miskin yang serba kekurangan
5.    Mengingat pahala yang di dapat apabila kita bersifat dermawan
6.    Sadar bahwa harta benda tidak akan kekal dan dibawa mati.
B.   Serakah
SERAKAH yaitu sikap tidak puas dengan yang menjadi hak atau miliknya, sehingga berupaya meraih yang bukan haknya. Setiap orang berpotensi bersikap serakah.
Ciri-ciri orang serakah antara lain :
Tidak mau berbagi atau pelit, selalu menginginkan bagian paling banyak, rakus terhadap dunia, tidak peduli terhadap kepentingan dan penderitaan orang lain.
Agar terhindar dari sifat serakah antara lain
1.    Membiasakan diri mensyukuri setiap pemberian dari Allah swt dan mansuia
2.    Menanamkan dalam hati sifat qonaah
3.    Tidak membanding-bandingkan nikmat yang dimiliki orang lain dengan diri sendiri
4.    Mengingat azab Allah swt.
5.    Tidak melupakan kehidupan akhirat yang lebih kekal atau abadi.
C.   Kisah Qorun
Qorun bersifat kikir dan serakah. Ia tidak mau berzakat dan sedekah. Allah membenamkan dirinya dan seluruh hartanya.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar